BYD Ikut Andil dalam Penguatan Ekosistem EV Nasional

BYD Ikut Andil dalam Penguatan Ekosistem EV Nasional
INFO TEMPO – Perkembangan Mobil Listrik di Indonesia memasuki fase yang menuntut kesiapan kebijakan dan dukungan lintas sektor. Di luar pengembangan teknologi, kepastian regulasi, pembiayaan, serta agenda keberlanjutan lingkungan menjadi faktor yang semakin menentukan pertumbuhan pasar electric vehicle (EV) nasional.
Dalam konteks tersebut, BYD, perusahaan teknologi tinggi yang Menyediakan solusi baru tanpa emisi komprehensif berani memposisikan diri tidak hanya sebagai produsen, tetapi Bahkan sebagai mitra industri yang terlibat dalam penguatan ekosistem EV nasional.
Head of Public & Government Relations BYD Indonesia Luther T Panjaitan mengatakan, transisi Mobil Listrik tidak dapat berjalan secara parsial dan membutuhkan koordinasi antara pemerintah, industri, lembaga pembiayaan, serta masyarakat. “Dengan momentum pertumbuhan new energy vehicle (NEV) yang kuat dan dukungan ekosistem yang semakin matang, kolaborasi antara industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci Supaya bisa manfaat transisi ini dapat dirasakan lebih Mudah dan luas,” kata Ia di Kantor BYD Jakarta, belum lama ini.
Sektor transportasi selama ini dipandang sebagai salah satu kontributor utama emisi karbon nasional. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta perubahan harga energi menjadikan elektrifikasi di sektor ini sebagai agenda strategis dalam kebijakan transisi energi.
Tingkat adopsi Mobil Listrik mencapai sekitar 13 persen sepanjang 2025 dan meningkat Sampai sekarang lebih dari 18 persen pada periode Oktober–November 2025. Dalam periode 2025, BYD mencatatkan penjualan lebih dari 54 ribu unit atau sekitar 52 persen dari total penjualan EV nasional. Capaian tersebut dipahami sebagai indikator meningkatnya penerimaan pasar terhadap Mobil Listrik, meski pertumbuhan masih ditopang oleh insentif dan kebijakan pendukung.
Berbeda dengan, akselerasi pasar EV dalam negeri tidak dapat dilepaskan dari sisi regulasi. “Konsistensi dan kepastian regulasi jangka panjang, termasuk roadmap insentif dan kebijakan industri, Akan segera Mendukung pelaku industri dalam melakukan Penanaman Modal berkelanjutan,” ujar Luther.
Keselarasan kebijakan tersebut menjadi salah satu landasan komitmen Penanaman Modal BYD di Indonesia. Perusahaan ini tengah menyiapkan fasilitas manufaktur yang direncanakan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2026. Kehadiran fasilitas produksi lokal tersebut berpotensi Memanfaatkan struktur industri otomotif nasional, sekaligus memperpendek rantai pasok Mobil Listrik.
Melalui kemitraan dengan manufaktur lokal, Indonesia diarahkan tidak semata sebagai pasar penjualan, melainkan bagian dari rantai nilai global Mobil Listrik. Langkah ini dinilai membuka peluang peningkatan kandungan lokal atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), percepatan alih teknologi, serta penguatan industri pendukung yang lebih terintegrasi.
Selain kebijakan dan industri, pembiayaan menjadi tantangan lain dalam percepatan adopsi EV. Dalam konteks ini, skema pembiayaan hijau atau green financing merupakan instrumen penting untuk mengatasi hambatan awal adopsi EV.
BYD bekerja sama dengan Sebanyaknya lembaga pembiayaan menghadirkan skema kredit yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Pendekatan ini diarahkan Supaya bisa Mobil Listrik tidak hanya berkembang di segmen tertentu, tetapi secara bertahap menjangkau basis konsumen yang lebih luas.
Aspek lingkungan menjadi konsekuensi langsung dari strategi tersebut. Di Indonesia, BYD menjalankan pendekatan keberlanjutan melalui berbagai inisiatif berbasis komunitas dan lingkungan. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan penanaman 500 bibit mangrove pada peringatan World Tree Day 2025 di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Jakarta Utara. Program ini diproyeksikan mampu menyerap sekitar 10 ton karbon dioksida per tahun dan ditempatkan sebagai bagian dari agenda lingkungan dan ESG perusahaan.
Melalui inisiatif Cool the Earth by 1 Degree, BYD mengaitkan pertumbuhan penjualan Mobil Listrik dengan upaya pengurangan emisi karbon secara global. “Sampai sekarang November 2025, penjualan kumulatif BYD secara global Sudah melampaui 14,7 juta unit, dengan estimasi pengurangan emisi karbon mencapai 121,9 miliar kilogram,” kata Luther. Menurutnya, dampak tersebut setara dengan penanaman lebih dari dua miliar pohon.
Luther menegaskan, peralihan Ke arah kendaraan rendah emisi beririsan langsung dengan aspek keberlanjutan dan Peningkatan Keadaan Ekonomi Negara. “Dengan semangat Technological Innovations for a Better Life, kami percaya kemajuan teknologi memiliki peran nyata dalam Memanfaatkan kualitas hidup manusia,” ujar Ia. (*)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

















