TAUD minta hakim tidak sahkan pelimpahan kasus Andrie Yunus ke POM TNI

Jakarta (ANTARA) – Tim Advokasi untuk Sistem Pemerintahan (TAUD) meminta hakim praperadilan Lembaga Proses Hukum Negeri Jakarta Selatan, untuk tidak mengesahkan pelimpahan kasus penyiraman Andrie Yunus ke Polisi Militer (POM) TNI.
“Menyatakan tindakan termohon yang tidak melanjutkan penyidikan Perkara Pidana Mengikuti laporan polisi nomor LP/A/222/III/2026/Satreskrim/Restro Jakarta Pusat/Polda Metro Jaya tertanggal 13 Maret 2026 serta melimpahkan penanganan tanpa kejelasan merupakan penghentian penyidikan secara tidak sah,” kata salah satu tim TAUD, Yosua Oktavian saat membacakan petitum praperadilannya di persidangan Lembaga Proses Hukum Negeri Jakarta Selatan, Rabu.
TAUD membacakan tujuh gugatan praperadilannya di hadapan hakim tunggal, Suparna. Pertama, meminta Supaya bisa Kapolda Metro Jaya atau spesifik (c.q. atau casu quo) Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya selaku pihak termohon ikut menghadiri sidang praperadilan tersebut.
“Pemohon meminta Supaya bisa Yang Mulia hakim praperadilan PN Jakarta Selatan yang memeriksa dan mengadili Perkara Pidana a quo menjatuhkan putusan, satu memerintahkan Supaya bisa termohon menghadap secara langsung dalam sidang praperadilan a quo,” kata Ia.
Kedua, kata Ia, TAUD meminta hakim memutuskan, menerima, dan mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya. Ketiga, menyatakan pemohon memiliki kedudukan hukum atau legal standing dan berhak mengajukan permohonan praperadilan dalam Perkara Pidana a quo.
Keempat, menyatakan bahwa termohon Sudah melakukan penundaan penanganan Perkara Pidana Mengikuti laporan polisi nomor LP/A/222/III/2026/Satreskrim/Restro Jakpus/Polda Metro Jaya tertanggal 13 Maret 2026 tanpa alasan yang sah.
Baca Bahkan: PN Jaksel gelar sidang perdana praperadilan Andrie Yunus
Kelima, menyatakan tindakan termohon yang tidak melanjutkan penyidikan Perkara Pidana Mengikuti laporan polisi nomor LP/A/222/III/2026/Satreskrim/Restro Jakarta Pusat/Polda Metro Jaya tertanggal 13 Maret 2026 serta melimpahkan penanganan tanpa kejelasan merupakan penghentian penyidikan secara tidak sah.
Keenam, memerintahkan termohon untuk melanjutkan proses hukum terhadap laporan polisi nomor LP/A/222/III/2026/Satreskrim/Restro Jakarta Pusat/Polda Metro Jaya tertanggal 13 Maret 2026 dan melimpahkan Perkara Pidana tersebut ke penuntut umum paling lambat 14 hari sejak putusan ini dibacakan.
“Ketujuh, menghukum termohon untuk membayar biaya Perkara Pidana yang timbul dalam Perkara Pidana a quo. Atau Bila Yang Mulia hakim praperadilan pada PN Jakarta Selatan berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono),” katanya.
Lembaga Proses Hukum Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) menggelar sidang perdana praperadilan kasus dugaan penganiayaan terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus.
Saat ini Bahkan, terdapat dua laporan yang berjalan di Polda Metro Jaya, Disebut juga Laporan Polisi Model A yang dibuat oleh kepolisian dan Laporan Polisi Model B yang sebelumnya dilaporkan ke Bareskrim Polri, kemudian dilimpahkan ke Polda Metro Jaya.
Permohonan itu diajukan lantaran proses penyidikan Perkara Pidana dari Laporan Polisi Model A dinilai buntu atau mandek.
Pihaknya menilai kasus tersebut tidak ada perkembangan maupun tindak lanjut dalam proses penegakan hukumnya.
Baca Bahkan: Bareskrim limpahkan laporan TAUD terkait Andrie Yunus ke Polda Metro
Baca Bahkan: Tim Advokasi ajukan praperadilan Andrie Yunus ke PN Jaksel
Pewarta: Luthfia Miranda Putri
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.




















